Kedudukan Sunnah Dalam Menyikapi Penguasa Negeri - Bag II

PANGGILAN JIHAD MERUPAKAN KEKHUSUSAN PENGUASA

Jihad merupakan kekhususan yang paling agung dan yang terbesar dari kekhususan yang dimiliki penguasa. Maka bila setiap individu boleh menyerukannya maka akan membuat kekacauan. Maka kapan manusia, para ulama, atau para penuntut ilmu diperkenankan menyeru kepada jihad ? Jawabannya adalah apabila penguasa telah menyerukannya.

Allah Ta’ala berfirman:

{ حَرِّضِ الْمُؤْمِنِينَ عَلَى الْقِتَال }

“Berilah semangat kepada kaum mukminin untuk berperang.”(QS.al-anfal:65)

Maka kaum mukminin mengikuti penguasa dalam hal ini.(27)



MELAKUKAN QUNUT DI MASJID HARUS DENGAN IZIN PENGUASA

Qunut merupakan hal yang dianjurkan dan bukan wajib hukumnya. Nabi صلى الله عليه وسلم melakukan qunut dalam satu tragedi dan meninggalkan qunut ketika terjadi tragedi yang lain. Dan madzhab ahlul hadits serta pendapat Imam Ahmad dan yang dipilih oleh Syaikh Ibnu Utsaimin: bahwa qunut hanyalah bagi penguasa tertinggi, dan wakil imam boleh qunut dengan idzinnya menurut salah satu riwayat dari Imam Ahmad.

Dan Jumhur ulama berhujjah bahwa Nabi صلى الله عليه وسلم hanyalah qunut di Masjidnya yang paling besar dan masjid lain di Madinah tidak melakukan qunut, demikian pula di masa Umar, beliau qunut dan masjid lain tidak melakukannya.”(28)

PENGUASA BERHAK MELARANG SEORANG ALIM UNTUK MENGAJAR

Berkata syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah: ”Jika penguasa memandang untuk menyuruh salah seorang diantara kita untuk diam dan mengatakan: kamu jangan berbicara, maka ini adalah udzur di sisi Allah untuk saya tidak berbicara sebagaimana yang dia perintahkan kepadaku, sebab menjelaskan kebenaran hukumnya adalah fardhu kifayah, tidak terkhusus hanya kepada si Zaid atau Amr, sebab kalau kita menyandarkan kebenaran kepada individu tertentu, maka kebenaran akan mati dengan matinya orang tersebut. Namun kebenaran tidaklah disandarkan kepada individu tertentu. Anggaplah mereka melarang saya dengan mengatakan: jangan kamu berbicara, jangan kamu berkhutbah, jangan kamu menjelaskan pelajaran, maka saya mendengar dan taat. Maka ketika saya pergi sholat, jika mereka izinkan saya untuk menjadi imam maka saya menjadi imam. Dan jika mereka mengatakan: jangan kamu mengimami manusia, maka akupun tidak mengimaminya dan cukup menjadi makmum, sebab hak tersebut telah didirikan oleh yang lain, dan bukan berarti bahwa jika mereka melarangku, berarti telah melarang semua manusia. Dan kami memiliki contoh dalam hal ini, dimana Ammar bin Yasir radhiallahu’anhu memberitakan dari Rasul Shallallahu alaihi wasallam bahwa beliau memerintahkan orang yang sedang junub untuk bertayammum, sedangkan Umar bin Khattab tidak memandang demikian, lalu Umar memanggilnya suatu hari lalu berkata: hadits yang engkau sampaikan kepada manusia bahwa orang junub bertayammum apabila tidak mendapatkan air? Maka dia menjawab: apakah engkau tidak mengingat ketika Nabi shallallahu alaihi wasallam mengutusku bersamamu dalam satu kebutuhan, lalu aku dalam keadaan junub, maka akupun berguling-guling di tanah. Lalu aku mendatangi Nabi shallallahu alaihi wasallam dan aku mengabarkannya dan beliau menjawab:”cukuplah bagimu berbuat dengan tanganmu demikian, lalu beliau mengajarkan tayammum. Akan tetapi wahai amirul mukminin, Sesungguhnya Allah telah mewajibkan atasku untuk taat kepadamu, maka jika engkau melihat untuk aku tidak memberitakannya, maka saya melakukannya.”
Allahu akbar, shahabat yang mulia menahan diri untuk memberitakan hadits dari Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam karena adanya perintah khalifah yang wajib ditaati, Namun Umar berkata kepadanya: tidak, aku tidak mencegahmu, tapi aku menyerahkan hal tersebut kepadamu.”
Maka jika penguasa memandang untuk melarang kaset-kaset Ibnu Utsaimin, ataukah kaset Ibnu Baaz, atau kaset yang lainnya, maka kami tidak menolak diri. Adapun kalau kita hendak menjadikan adanya prosedur semacam ini untuk membangkitkan emosi masyarakat, terkhusus para pemuda, untuk menjadikan hati mereka benci kepada penguasanya, maka ini –demi Allah wahai saudaraku- merupakan kemaksiatan, dan merupakan salah satu faktor terbesar yang menimbulkan fitnah dikalangan manusia. Dan negeri kita (Saudi Arabia -ed) –sebagaimana yang telah kalian ketahui- merupakan negeri kecil, ruang lingkupnya kecil, yang di dalamnya terdapat jutaan kampung yang terpisah dan kabilah yang berbeda, kalau bukan karena Allah Azza Wajalla menganugerahi kita dengan disatukannya kalimat diatas kekuasaan Abdul Aziz bin Su’ud (Rahimahullah Ta’ala -ed), maka kita telah berpecah dan saling membunuh. Di negeri ini, salah satu dari orang tua kami mengabarkan kepadaku bahwa dahulu di bulan Ramadhan, mereka tidak keluar untuk sholat tarawih kecuali apabila setiap mereka membawa senjata disebabkan rasa takut yang terjadi di tengah negeri, adapun sekarang sudah dalam keadaan aman, apa persangkaan kalian jika hal ini berubah –semoga Allah tidak mentaqdirkannya-, apakah masih ada rasa aman seperti ini?. Sekarang ini seseorang tatkala keluar dalam keadaan mobilnya dipenuhi barang-barang berharga, apabila telah dikumandangkan adzan maghrib, dia turun sholat sedangkan mobilnya diletakkan di marmal hajar(29) atau didekatnya, dan dia tidak takut kecuali hanya kepada Allah. Mengapa kita tidak menghargai rasa aman ini? Mengapa kita tidak mengetahui bahwa jika hati manusia dalam keadaan saling membenci, maka rasa aman menjadi hilang dan manusia menjadi kalap.

Walaupun mereka melarang kaset si fulan dan fulan, tidak masalah, dan kita tetap mengatakan: kami memohon kepada Allah agar memberi hidayah kepada mereka. Apakah kita lebih berilmu, lebih faqih, lebih mengerti tentang agama daripada Imam Ahmad. Beliau dipukuli dan bahkan diseret dengan baghlah(30), dipukul dengan cambuk sehingga beliau tidak sadarkan diri. Namun beliau tetap mengatakan: “JIKALAU SEKIRANYA AKU MEMILIKI DO’A YANG MUSTAJAB, MAKA AKU AKAN MENUJUKANNYA UNTUK PENGUASA”. Dan beliau tetap memanggil khalifah Ma’mun dengan sebutan Amirul mukminin, dalam keadaan Makmun menyeru kepada bid’ah yang besar, yaitu berpendapat bahwa Al-Qur’an makhluk (Padahal keyakinan yang benar adalah Al-Qur’an adalah Kalamullah bukan Makhluk), bahkan keyakinan ini mereka ajarkan di Sekolah. Lalu bagaiman jika kita melihat hal tersebut ada pada penguasa kita? Apakah kalian mengetahui dari mereka(31) bahwa mereka mengajak kepada bid’ah lalu mengatakan: barangsiapa yang menentang kami maka kami akan membunuhnya, atau memenjarakannya, atau memukulnya? Aku tidak mengetahui adanya hal tersebut!
Sesunggunya ikhwan yang meributkan hal-hal seperti ini, mereka tidak membantu kecuali kepada sekularisme, apakah kaum sekuler sekarang ini senang negeri kita tetap ada? Tidak, sebab mereka tidak menghendaki Islam, mereka menginginkan negara komunis yang mensederajatkan setiap orang apakah dia yahudi, nashrani, penyembah berhala, ataukah muslim. Mereka senang bila penguasa negeri marah terhadap kalian dengan adanya selentingan seperti ini, sehingga mereka menghukum kalian, lalu mereka (rakyat) pun hendak menyikapi pemerintahnya, sebab masyarakat umum apabila hati mereka tidak senang kepada penguasanya, maka mereka membencinya dan marah kepadanya lalu berusaha menjatuhkan tahtanya dengan kekuatan, lalu mereka sendiri yang hendak menerapkan hukum setelah (runtuhnya kekuasaan sebelumnya) –semoga Allah tidak mentakdirkannya-. Perhatikanlah sekarang munculnya berbagai gejolak di Mesir, Irak, Syam, apa yang dialami kaum muslimin, apakah berubah keadaan mereka dari kejelekan menuju arah yang lebih baik, ataukah dari kejelekan kearah yang lebih jelek? Para pemuda yang yang bangkit amarah mereka dengan sebab perkara-perkara ini, mereka telah membantu kaum sekuler dengan bantuan gratis secara tidak langsung.”(32)

WAJIB ILTIZAM KEPADA JAMA’AH

Sungguh Nabi Shallallahu alaihi wasallam telah menganjurkan UNTUK BERILTIZAM (KOMITMEN) KEPADA PENGUASA, DAN TIDAK MEMBERONTAK ATASNYA, sebagaimana yang dikeluarkan Imam Al Bukhari dalam shohih-nya dari Hudzaifah bin Yaman bahwa Nabi صلى الله عليه وسلم berkata kepadanya tentang zaman kejahatan dan fitnah:

“Hendaklah engkau komitmen terhadap jama’ah kaum muslimin dan pemimpinnya.”

Hal itu disebabkan karena penguasa adalah perisai dan pelindung bagi siapa yang bersamanya, sebagaimana yang dikeluarkan Imam Al Bukhari dan Muslim dalam shohih kedua nya dari Abu Hurairoh رضي الله عنه bahwa Nabi صلى الله عليه وآله وسلم bersabda:

:" إِنَّمَا الْإِمَامُ جُنَّةٌ يُقَاتَلُ مِنْ وَرَائِهِ وَيُتَّقَى بِهِ فَإِنْ أَمَرَ بِتَقْوَى اللَّهِ وَعَدَلَ فَإِنَّ لَهُ بِذَلِكَ أَجْرًا وَإِنْ قَالَ بِغَيْرِهِ فَإِنَّ عَلَيْهِ مِنْهُ"

“Sesungguhnya pemimpin itu adalah perisai, yang (suatu kaum) berperang dibelakangnya dan membentengi diri dengannya, Maka jika dia memerintahkan untuk bertaqwa kepada Allah dan berbuat adil, maka sesungguhnya dia mendapatkan pahala atas perbuatannya itu, namun jika dia berbuat yang lain, maka dia mendapat dosa.”

PENGUASA ADALAH PEMELIHARA, DAN DIA SEBAGAI WALI BAGI YANG TIDAK MEMILIKI WALI

Telah dijelaskan oleh Nabi صلى الله عليه وآله وسلم bahwa penguasa adalah pemelihara kita, dan kita merupakan peliharaannya, sebagaimana yang dikeluarkan Imam Al Bukhari dalam shohihnya dari Ibnu Umar رضي الله عنهما bahwa Rasulullah صلى الله عليه وآله وسلم bersabda:

:" كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ الْإِمَامُ رَاعٍ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ "

“setiap kalian adalah pemelihara, dan setiap kalian bertanggung jawab atas peliharaannya, seorang Imam adalah pemelihara, dan bertanggung jawab atas peliharaannya.”
Dan beliau صلى الله عليه وآله وسلم , menjelaskan bahwa siapa yang tidak mempunyai wali, maka penguasa adalah walinya, sebagaimana yang dikeluarkan Ibnu Majah dalam sunan-nya dari Aisyah رضي الله عنها berkata: bersabda Rasulullah صلى الله عليه وآله وسلم :

"السُّلْطَانُ وَلِيُّ مَنْ لَا وَلِيَّ لَهُ ".

“Penguasa adalah wali bagi orang yang tidak mempunyai wali.” (33)

WAJIB MEMULIAKAN DAN MENGHORMATI PEMIMPIN, DAN HARAMNYA MERENDAHKAN DAN MENGHINAKANNYA

Nabi صلى الله عليه وآله وسلم menjelaskan bahwa penguasa adalah wajib dimuliakan dan dihormati, dan diharamkan merendahkan dan menghinakannya. Sebagaimana yang dikeluarkan oleh Imam Ahmad dalam musnad-nya dan Tirmidzi dalam ”sunan” dari Ziyad bin Kusaib Al-Adawi berkata: aku pernah bersama Abu Bakroh dibawah mimbar Ibnu Amir dalam keadaan beliau sedang berkhutbah, memakai pakaian yang halus. Maka dia berkata Abi Bilal: lihatlah pemimpin kita, dia memakai pakaian orang fasiq. Maka Abu Bakroh berkata: diam kamu. Sesungguhnya aku telah mendengar Rasulullah صلى الله عليه وآله وسلم bersabda:

مَنْ أَكْرَمَ سُلْطَانَ اللَّهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى فِي الدُّنْيَا أَكْرَمَهُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَمَنْ أَهَانَ سُلْطَانَ اللَّهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى فِي الدُّنْيَا أَهَانَهُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ".

”Barangsiapa yang memuliakan penguasa Allah تبارك وتعالى di dunia, maka Allah akan memuliakannya pada hari kiamat, dan barangsiapa yang menghinakan penguasa Allah تبارك وتعالى didunia, maka Allah akan menghinakannya pada hari kiamat.”(34)

Maka perhatikanlah, bagaimana Abu Bakroh رضي الله عنه menganggap sikap mencela dan menjelekkan penguasa termasuk menghinakannya. Imam Adz-Dzahabi rahimahullah mengomentari kisah ini dengan mengatakan: Abu Bilal ini seorang khawarij, dan termasuk kejahilannya, dia menganggap pakaian halus seseorang sebagai pakaian orang yang fasiq.(35)

PERINTAH UNTUK BERSABAR, LARANGAN DARI MENINGGALKAN KETAATAN KEPADA PENGUASA

Sebagaimana Nabi صلى الله عليه وآله وسلم memerintahkan untuk bersabar dan melarang dari melepaskan ketaatan (dalam perkara ma’ruf), walaupun dia melihat penguasa tersebut melakukan kemaksiatan, sebagaimana yang dikeluarkan Imam Muslim dalam shohihnya dari ‘Auf bin Malik berkata: telah bersabda Rasulullah صلى الله عليه وآله وسلم :

:" مَنْ وَلِيَ عَلَيْهِ وَالٍ فَرَآهُ يَأْتِي شَيْئًا مِنْ مَعْصِيَةِ اللَّهِ فَلْيَكْرَهْ مَا يَأْتِي مِنْ مَعْصِيَةِ اللَّهِ وَلَا يَنْزِعَنَّ يَدًا مِنْ طَاعَةٍ "

“Barangsiapa yang memimpinnya, lalu dia melihat dia melakukan kemaksiatan kepada Allah, maka hendaklah dia membenci apa yang dia kerjakan dari maksiat kepada Allah dan jangan dia melepaskan diri dari ketaatan kepadanya (dalam hal yang ma’ruf)”

Dan dikeluarkan Imam Muslim dalam shohihnya dari Ibnu Abbas رضي الله عنهما dari Nabi صلى الله عليه وآله وسلم bersabda:

مَنْ كَرِهَ مِنْ أَمِيرِهِ شَيْئًا فَلْيَصْبِرْ عَلَيْهِ فَإِنَّهُ لَيْسَ أَحَدٌ مِنَ النَّاسِ خَرَجَ مِنَ السُّلْطَانِ شِبْرًا فَمَاتَ عَلَيْهِ إِلَّا مَاتَ مِيتَةً جَاهِلِيَّةً

“Barangsiapa yang melihat dari pemimpinnya sesuatu yang dibencinya, maka hendaklah dia bersabar, karena tidaklah seseorang keluar dari penguasa walapun sejengkal, melainkan dia mati seperti matinya kaum jahiliyyah.”

Dan Imam Al Bukhari mengeluarkan dalam tarikh-nya dari Wa’il bahwa dia bertanya kepada Nabi صلى الله عليه وآله وسلم : bagaimana jika kami memiliki pemimpin yang tidak mengamalkan ketaatan? Beliau صلى الله عليه وآله وسلم menjawab:

“mereka bertanggungjawab atas apa yang mereka pikul dan kalian pun bertanggung jawab atas apa yang kalian pikul”

Dan Imam Muslim mengeluarkan dalam shohihnya dari Hudzaifah bin Yaman رضي الله عنه bahwa Rasulullah صلى الله عليه وآله وسلم bersabda:

:" يَكُونُ بَعْدِي أَئِمَّةٌ لَا يَهْتَدُونَ بِهُدَايَ وَلَا يَسْتَنُّونَ بِسُنَّتِي وَسَيَقُومُ فِيهِمْ رِجَالٌ قُلُوبُهُمْ قُلُوبُ الشَّيَاطِينِ فِي جُثْمَانِ إِنْسٍ

“Akan muncul setelahku para pemimpin yang tidak mengambil petunjuk dari petunjukku dan tidak mengikuti sunnahku,dan akan tegak diantara mereka orang-orang yang hatinya adalah hati syetan dalam jasad manusia.”Aku bertanya, “apa yang akan aku lakukan wahai Rasulullah jika aku menemukan yang demikian.” Beliau menjawab: ”engkau mendengar dan taat kepada pemimpin walaupun dia memukul punggungmu dan mengambil hartamu, MAKA DENGAR DAN TAATLAH.”

Maka perhatikanlah hadits yang agung ini yang kebanyakan manusia lari darinya,dimana Rasul صلى الله عليه وآله وسلم memerintahkan untuk taat kepada pemimpin walaupun pemimpin itu mendzaliminya dengan merampas harta dan memukul punggung. Maka bagaimana keadaan manusia yang tidak punya kesabaran dan ketaatan, padahal mereka belum sampai kepada kondisi demikian ini –Walhamdulillah- bahkan demi Allah mereka dalam keadaan mendapatkan nikmat yang besar dan anugerah yang luar biasa.

BERSABAR DARI KEDZALIMAN PENGUASA TERMASUK PRINSIP DAKWAH SALAFIYYAH

Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah : ”Bersabar terhadap kedzaliman penguasa adalah salah satu prinsip dari prinsip ahlus sunnah wal jama’ah”(36)

Dan ini benar, sebab perintah untuk bersabar terhadap kedzaliman penguasa dan penganiayaan mereka mendatangkan kemaslahatan dan menolak adanya kemudhoratan, juga menjadi kebaikan bagi hamba dan negara.

Berkata Ibnu Taimiyyah: “Apa yang terdapat pada kedzaliman mereka dan melampaui batas, apakah dengan penakwilan yang dibenarkan atau tidak, maka tidak boleh dihilangkan dengan sesuatu yang mendatangkan kedzaliman dan melampaui batas pula, sebagaimana kebiasaan kebanyakan manusia yang menghilangkan kejahatan dengan mendatangkan sesuatu yang lebih jahat, dan menghilangkan permusuhan dengan sesuatu yang lebih mendatangkan permusuhan, maka keluar dari ketaatan terhadap mereka menyebabkan kedzaliman dan kerusakan yang lebih dahsyat dari kedzaliman penguasa itu sendiri, maka hendaklah bersabar atasnya sebagaimana halnya sikap sabar ketika beramar ma’ruf nahi munkar atas kedzaliman yang diperintah dan yang dilarang dalam banyak nash.”(37)

Berkata Syaikh Bin Baaz: “Keluar dari penguasa menyebabkan kerusakan yang besar, dan kejahatan yang dahsyat, yang menyebabkan rasa aman menjadi hilang, dan terabaikan hak-hak, sehingga tidak memungkinkan untuk menghentikan kelakuan orang yang dzalim dan menolong yang terdzalimi.”(38)

Dan berkata para imam dakwah: ”Apa yang dilakukan oleh para penguasa dari berbagai kemaksiatan dan penyelisihan syari’at yang tidak menyebabkan kekafiran dan keluar dari Islam, maka wajib menasehati mereka dengan cara yang syar’i dengan lemah lembut, dan mengikuti apa yang telah diamalkan salafus soleh dengan tidak menjelek-jelekkan mereka di berbagai majelis dan kumpulan manusia, lalu meyakini bahwa yang demikian itu termasuk dari nahi mungkar yang diingkari oleh setiap hamba. Ini adalah kesalahan fatal, dan kejahilan yang nampak, orang yang mengatakannya tidak mengetahui akibat dari perbuatan tersebut berupa kerusakan yang besar baik dalam dunia dan agama, sebagaimana yang telah diketahui hal tersebut oleh orang yang mendapatkan penerangan hati dari Allah dan mengenal metode salafus shaleh dan para pemimpin agama.”(39)

Tatkala sebagian para ulama hendak melepaskan ketaatan dari kekuasaan khalifah al-Watsiq dengan sebab fitnah pernyataan “Al-qur’an itu makhluk”, Imam Ahmad mencegahnya dan mendebat sikap tersebut dan mengatakan: ”Hendaklah kalian mengingkarinya dengan hati-hati kalian, jangan kalian melepaskan ketaatan, dan memecahkan tongkat (persatuan) kaum muslimin, jangan kalian tumpahkan darah kalian dan darah kaum muslimin, darah kaum muslimin bersama kalian, hendaklah kalian memandang akibat perbuatan kalian, bersabarlah sampai merasa tenang orang yang baik, dan diistirahatkan dari orang yang fajir, dan bukanlah hal ini –yaitu melepaskan ketaatan dari penguasa – dibenarkan, ini menyelisihi atsar.”

Sebagian mereka ada yang mengatakan: “Sesungguhnya kami mengkhawatirkan atas anak-anak kami jika perkara ini semakin nampak, dan mereka tidak mengetahui selainnya, sehingga Islam menjadi hilang dan terhapus.”(40)

Maka Imam Ahmad mengatakan kepada mereka:

كلا إن الله عز و جل ناصر دينه و إن هذا الأمر له رب ينصره و إن الإسلام عزيز منيع

”Sekali-kali tidak, sesungguhnya Allah عز وجل menolong agamanya, dan sesungguhnya perkara ini, ada Robb yang akan menolongnya, dan sesungguhnya Islam itu mulia dan terbentengi.”

Maka mereka keluar dari Abu Abdillah (Imam Ahmad), dan beliau tidak menjawab mereka sedikitpun dari perkara yang mereka inginkan melainkan beliau melarang dari perbuatan tersebut , dan membantah mereka untuk senantiasa mendengar dan taat sampai Allah menyelamatkan umat ini darinya, namun mereka tidak menerimanya.(41)

Berkata Al-Allamah Imam Abdul Latif Aalusy-syaikh rahimahullah :
“Mayoritas para pemimpin Islam dari masa Yazid bin Mu’awiyah, kecuali Umar bin Abdil Aziz dan siapa yang Allah kehendaki dari Bani Umayyah, telah terjadi dari mereka berbagai tindakan kelancangan, peristiwa yang besar, keluar dari ketaatan, kerusakan dalam kekuasaan kaum muslimin. Namun sejarah para imam, tokoh-tokoh, para pembesar Islam yang mulia adalah hal yang ma’ruf dan masyhur, mereka tidak melepaskan baiat dari mentaati sesuatu yang Allah dan Rasul-Nya perintahkan dari syari’at Islam. Tidak diketahui bahwa ada seseorang dari kalangan para imam yang melepaskan baiat dari ketaatan, dan tidak berpandangan bolehnya memberontak atas mereka.”(42)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar