Kedudukan Sunnah Dalam Menyikapi Penguasa Negeri - Bag III

BARANGSIAPA YANG MELEPAS KETAATANNYA, TIDAK ADA HUJJAH BAGINYA PADA HARI KIAMAT

Nabi صلى الله عليه وسلم telah menjelaskan bahwa barangsiapa yang melepaskan baiat taatnya, maka tidak ada hujjah baginya pada hari kiamat, dan keadaan matinya seperti matinya kaum jahiliyyah, sebagaimana yang dikeluarkan Imam Ahmad dalam musnadnya dari Ibnu Umar رضي الله عنهما berkata : bersabda Rasulullah صلى الله عليه وسلم :

:" مَنْ خَرَجَ مِنَ الطَّاعَةِ وَفَارَقَ الْجَمَاعَةَ فَمَاتَ مَاتَ مِيتَةً جَاهِلِيَّةً "

“Barangsiapa yang melepaskan baiatnya dari ketaatan, maka dia tidak memiliki hujjah pada hari kiamat, dan barangsiapa yang mati dalam keadaan dia memisahkan diri dari jama’ah maka dia mati seperti matinya kaum jahiliyyah”(43)



Berkata Ibnu Abi Jamroh: ”Yang dimaksud memisahkan diri adalah berusaha melepaskan baiat yang telah sah dari seorang pemimpin, walau sekecil apapun, maka beliau menggunakan kata kiasan dengan “sejengkal”, sebab melakukan hal tersebut mengakibatkan tertumpahnya darah tanpa haq”.
Berkata Al-Hafidz: “Yang dimaksud dengan kematian ala jahiliyyah, adalah keadaan matinya seperti matinya kaum jahiliyyah diatas kesesatan dimana ia tidak memiliki seorang pemimpin yang ditaati, sebab mereka tidak mengenal itu, dan bukanlah yang dimaksud bahwa dia mati dalam keadaan kafir, namun dia mati dalam keadaan bermaksiat.(44)

BARANGSIAPA YANG MELEPASKAN KETAATANNYA, TERMASUK ORANG YANG MENGKHIANATI JANJI PADA HARI KIAMAT

Barangsiapa yang melepaskan ketaatannya, maka dia termasuk diantara orang yang ingkar janji pada hari kiamat, sebagaimana yang dikeluarkan Imam Bukhari dalam shohih-nya dari Nafi’ berkata: tatkala penduduk Madinah melepaskan ketaatannya dari Yazid bin Mu’awiyah, Ibnu Umar mengumpulkan para pelayan dan anak-anaknya, lalu berkata: sesungguhnya aku mendengar Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:

“Dipasang bendera bagi setiap yang mengkhianati janji pada hari kiamat”

Dan sesungguhnya kita telah membaiat orang ini (maksudnya Yazid bin Muawiyah,pen) diatas baiat Allah dan Rasul-Nya, dan sesungguhnya aku tidak mengetahui pengkhianatan yang lebih besar dari seseorang yang telah dibaiat diatas baiat Allah dan Rasul-Nya, lalu ditegakkan peperangan terhadapnya. Dan sesungguhnya aku tidak mengetahui seorangpun dari kalian yang melepaskan baiat dan tidak membaiat pemimpin ini melainkan itu adalah pemutus hubungan antaraku dengan dia.

Berkata al-Hafidz Ibnu Hajar: “Dalam hadits ini menunjukkan wajibnya mentaati pemimpin yang telah dtetapkan padanya baiat, dan larangan melakukan pemberontakan terhadapnya walaupun dia dzalim dalam hukumnya, dan sesungguhnya tidak terlepas (ketaatan) dengan sebab adanya kefasikan.”(45)

HUKUMAN BAGI YANG MEMBAIAT PENGUASA KARENA DUNIA, JIKA DIA DIBERI MAKA DIA MEMBAIAT, DAN JIKA TIDAK DIBERI MAKA DIA TIDAK MEMBAIAT

Nabi صلى الله عليه وسلم menjelaskan bahwa yang membaiat penguasa karena dunia, jika diberi dia menyempurnakan baiatnya, dan jika tidak maka dia tidak menyempurnakan baiatnya, maka Allah tidak akan berbicara dengannya, tidak memperhatikannya, dan tidak mensucikannya, dan baginya adzab yang pedih. Sebagaimana yang telah dikeluarkan oleh Imam Bukhari dalam shohih-nya dari Abu Hurairoh Radhiyallahu ‘anhu berkata: telah bersabda Rasulullah صلى الله عليه وسلم :

ثَلَاثَةٌ لَا يُكَلِّمُهُمُ اللَّهُ وَلَا يَنْظُرُ إِلَيْهِمْ وَلَا يُزَكِّيهِمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ رَجُلٌ عَلَى فَضْلِ مَاءٍ بِطَرِيقٍ يَمْنَعُ مِنْهُ ابْنَ السَّبِيلِ وَرَجُلٌ بَايَعَ رَجُلًا لَا يُبَايِعُهُ إِلَّا لِلدُّنْيَا فَإِنْ أَعْطَاهُ مَا يُرِيدُ وَفَى لَهُ وَإِلَّا لَمْ يَفِ لَهُ وَرَجُلٌ سَاوَمَ رَجُلًا بِسِلْعَةٍ بَعْدَ الْعَصْرِ فَحَلَفَ بِاللَّهِ لَقَدْ أَعْطَى بِهَا كَذَا وَكَذَا فَأَخَذَهَا".

“Tiga golongan yang Allah tidak berbicara dengan mereka, Allah tidak memandang mereka, dan tidak mensucikan mereka, dan bagi mereka azab yang pedih: seseorang memiliki kelebihan air di sebuah jalan, yang dia mencegah ibnu sabil dari mengambilnya. Dan seseorang yang membaiat seorang (pemimpin), dia tidak membaiatnya kecuali hanya karena dunia, jika dia diberi apa yang dia inginkan maka dia menyempurnakan baiatnya, dan jika tidak maka dia tidak menyempurnakannya. Dan seseorang yang menjual barang dagangannya setelah ashar ,lalu dia bersumpah dengan nama Allah ,sungguh dia telah memberi seharga demikian, maka dia pun mengambilnya.”

Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah Rahimahumullah : “Barangsiapa yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya dengan menaati pemerintahnya karena Allah, maka pahalanya di sisi Allah, dan barangsiapa yang tidak taat kepadanya kecuali sebatas apa yang diperolehnya dari kekuasaan dan harta, jika mereka memberi maka diapun mentaatinya, dan jika mereka enggan memberi maka dia pun membangkang, maka dia tidak akan mendapat bagiannya di akhirat.”(46)

PERINTAH BERSABAR WALAUPUN MEREKA LEBIH MEMENTINGKAN HAKNYA DAN MENCEGAH HAK RAKYAT

Nabi صلى الله عليه وسلم telah menjelaskan bahwa suatu saat nanti akan terjadi atsaroh, yang artinya adalah memonopoli sesuatu terhadap sesuatu yang lain yang memiliki hak padanya. Dan Nabi صلى الله عليه وسلم tidak memerintahkan kita untuk keluar dari ketaatan kepadanya atau membangkang dari perintahnya, bahkan beliau memerintahkan untuk tetap menunaikan kewajibannya. Sebagaimana yang dikeluarkan Imam Bukhari dalam shohihnya dari Abdullah berkata: Rasulullah صلى الله عليه وسلم berkata kepada kami:

إِنَّكُمْ سَتَرَوْنَ بَعْدِي أَثَرَةً وَأُمُورًا تُنْكِرُونَهَا قَالُوا فَمَا تَأْمُرُنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ أَدُّوا إِلَيْهِمْ حَقَّهُمْ وَسَلُوا اللَّهَ حَقَّكُمْ "

“Sesungguhnya kalian akan melihat setelahku atsaroh, dan perkara-perkara yang kalian ingkari.” (para shahabat) bertanya: “Lalu apa yang engkau perintahkan kepada kami wahai Rasulullah?” Beliau bersabda: ”Tunaikan kewajiban kalian untuk mereka, dan mintalah kepada Allah hak kalian (yang dirampas oleh mereka).”

Ucapan “perkara-perkara yang kalian ingkari”, maksudnya adalah dalam urusan agama.
Berkata Imam Nawawi Rahimahullah: “Dalam hadits ini terdapat anjuran untuk senantiasa mendengar dan taat, walaupun pemimpin tersebut dzalim dan melampaui batas, maka diberi haknya berupa ketaatan dan tidak keluar darinya, dan tidak melepaskan (baiat) kepadanya, namun dia berdo’a kepada Allah agar menghilangkan gangguannya dan menolak kejahatannya dan memperbaikinya.”(47)

HUKUM PEMERINTAH YANG BERHUKUM DENGAN SELAIN YANG DITURUNKAN ALLAH

Berkata Syaikh Bin Baaz Rahimahullah : barangsiapa yang berhukum dengan selain yang diturunkan Allah, maka tidak keluar dari empat perkara:

1. Siapa yang berkata: “Saya berhukum dengannya, karena lebih afdhal dari syari’at Islam,” maka orang ini kafir dengan kufur akbar (mengeluarkan dari Islam).
2. Barangsiapa yang berkata: “Saya berhukum dengannya, karena seperti syari’at Islam, maka berhukum denganya boleh dan dengan syari’at Islam pun boleh,” maka orang ini kafir dengan kufur akbar.
3. Dan siapa yang berkata: “Saya berhukum dengan ini, dan berhukum dengan syari’at Islam lebih afdhal, namun boleh berhukum dengan selain dari apa yang diturunkan Allah,” maka dia kafir dengan kufur akbar.
4. Dan siapa yang berkata: “Saya berhukum dengannya, dan saya yakin bahwa berhukum dengan selain dari apa yang diturunkan Allah tidak boleh,” dan dia berkata pula: “Berhukum dengan syari’at Islam lebih afdhal, dan tidak boleh berhukum dengan selainnya.” Namun dia terlalu memudah-mudahkan, atau dia melakukannya karena perintah dari penguasanya, maka dia kafir dengan kufur asghar dan tidak mengeluarkan dari agama, dan dia dianggap melakukan dosa yang paling besar.(48)

MENDOAKAN KEBAIKAN UNTUK PENGUASA TERMASUK DARI NASEHAT

Menasehati penguasa termasuk diantara perkara agama yang terpenting, sebagaimana yang dikeluarkan Imam Muslim dalam shohih-nya dari Tamim Ad-Dari bahwa Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda :

الدِّينُ النَّصِيحَةُ قُلْنَا لِمَنْ قَالَ لِلَّهِ وَلِكِتَابِهِ وَلِرَسُولِهِ وَلِأَئِمَّةِ الْمُسْلِمِينَ وَعَامَّتِهِمْ "

“Agama itu nasehat,” kami bertanya: “Bagi siapa?” Beliau menjawab: “Bagi Allah, kitab-Nya ,Rasul-Nya, dan bagi pemimpin kaum muslimin dan seluruh kaum muslimin.”

Diantara konsekwensi nasehat terhadap penguasa adalah mencintainya, mentaatinya, dan mendoakan kebaikan untuknya.

Berkata Imam Ibnu Rojab: ”Nasehat bagi para pemimpin kaum muslimin adalah mencintai agar mereka menjadi baik, terbimbing dan adil, dan mencintai bersatunya umat diatas kepemimpinannya, dan membenci terpecahnya umat dari mereka. Dan ketaatan kepada mereka adalah menjadi bagian agama, sebagai ketaatan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala , dan membenci orang yang keluar dari ketaatan terhadap mereka. Dan senang memuliakan mereka adalah bagian ketaatan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala.(49)

Berkata Syaikh Bin Baaz: “Diantara konsekwensi baiat adalah menasehati penguasa, dan diantara bentuk nasehat adalah mendo’akannya agar diberi taufik dan hidayah, dan kebaikan dalam niat dan amalan, dan mendapatkan penasehat yang baik.”(50)

Para ulama salaf sangat berupaya dan menganjurkan untuk mendo’akan penguasa agar diberi kebaikan dan kesolehan. Fudhail bin ‘Iyyadh berkata:

“Kalaulah sekiranya aku diberi do’a yang terkabul, maka aku tidak berdo’a kecuali untuk kebaikan penguasa.” Lalu ada yang bertanya kepada Fudhail: “Jelaskan kepada kami hal ini?” Berkata Fudhail: “Jika aku peruntukkan bagi diriku, maka tidak akan melampaui diriku sendiri. Namun jika kuperuntukkan bagi penguasa, maka penguasa akan menjadi baik, maka kebaikannya akan mendatangkan kemaslahatan bagi para hamba dan negara.”

Berkata Imam Al-Barbahari: “Kita diperintahkan untuk mendo’akan mereka dengan kebaikan, dan kita tidak diperintahkan untuk mendo’akan mereka dengan kejelekan, walaupun mereka dzalim. Sebab kedzaliman dan sikap melampaui batasnya mereka hanya terbatas pada diri mereka. Dan kebaikan mereka menunjukkan kebaikan bagi diri mereka dan kaum muslimin.”(51)

TANDA AHLUS SUNNAH ADALAH MENDO’AKAN KEBAIKAN BAGI PENGUASA DAN TANDA AHLI BID’AH ADALAH MENDOAKAN KEJELEKAN ATAS PENGUASA

Diantara tanda ahlus sunnah adalah mendo’akan penguasa dengan kebaikan dan agar menjadi shaleh, serta diberi taufiq, dan diantara tanda ahli bid’ah adalah mendo’akan kejelekan atas penguasa. Berkata Imam Barbahari:

"إذا رأيت الرجل يدعو على السلطان فاعلم أنه صاحب هوى .و إذا رأيت الرجل يدعو للسلطان بالصلاح فاعلم أنه صاحب سنة إن شاء الله "

“Jika engkau melihat seseorang mendo’akan kejelekan atas penguasa maka ketahuilah bahwa dia pengikut hawa nafsu, dan jika engkau melihat seseorang mendo’akan kebaikan bagi penguasa maka ketahuilah bahwa dia adalah Ahlus Sunnah insya Allah.”

ENGGAN MENDOAKAN KEBAIKAN KEPADA PENGUASA

Sebagian manusia ada yang mencegah diri dari mendo’akan penguasa. Dan tidak diragukan lagi bahwa ini suatu kesalahan.

Berkata Al-Allamah Bin Baaz Rahimahullah tentang orang yang enggan mendo’akan kebaikan bagi penguasa :

“Ini termasuk dari kejahilannya, dan tidak memiliki ilmu. Mendo’akan kebaikan untuk penguasa termasuk diantara pendekatan diri kepada Allah yang paling agung, dan amalan ketaatan yang paling afdhal, dan termasuk nasehat bagi Allah dan hamba-hamba-Nya.”

Dan Nabi صلى الله عليه وسلم tatkala dikatakan kepada beliau bahwa kabilah Daus telah membangkang! Maka beliau berdo’a: “Ya Allah, berilah petunjuk kepada kabilah Daus dan datangkanlah mereka.” Beliau mendo’akan kebaikan untuk manusia. Dan penguasa lebih utama untuk dido’akan kebaikan, sebab baiknya penguasa pertanda baiknya umat. Dan mendo’akannya termasuk do’a yang terpenting.”(52)

HARAMNYA MENCELA PENGUASA

Syari’at yang lurus ini melarang seseorang dari mencela penguasa, sebab mencela mereka akan menjurus kepada tidak mentaatinya dalam perkara yang ma’ruf, dan akan membangkitkan emosi masyarakat terhadap mereka, yang akan membuka jalan terjadinya kekacauan yang tidak akan kembali kepada manusia melainkan kejahatan yang merebak, sebagaimana kebiasaan mencela mereka akan berakhir dengan melakukan pemberontakan atas mereka, dan memeranginya. Dan ini merupakan malapetaka yang dahsyat dan musibah yang besar.

Mengotori kehormatan para penguasa dan menyibukkan diri dengan mencelanya, serta menyebut aib-aibnya merupakan kesalahan besar dan kejahatan yang buruk yang dilarang oleh syari’at yang suci, dan mencela pelakunya, dan ini merupakan bibit sikap memberontak terhadap penguasa yang merupakan inti rusaknya agama dan dunia. Dan telah diketahui bahwa wasilah (perantara) memiliki hukum yang sama dengan tujuan, maka setiap nash yang mengharamkan keluar dari ketaatan dan celaan terhadap pelakunya merupakan dalil yang menunjukkan diharamkannya mencela dan tercelanya pelakunya.(53)

Dikeluarkan oleh Ibnu Abdil Barr dalam “At-tamhid” dari Anas bin Malik Rahimahullah bahwa beliau berkata :

" كان الأكابر من أصحاب رسول الله صلى الله عليه وسلم ينهوننا عن سبِّ الأمراء"

“Adalah para pembesar dari shahabat Rasulullah صلى الله عليه وسلم melarang kami dari mencela para penguasa.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar