Kedudukan Sunnah Dalam Menyikapi Penguasa Negeri - Bag I

Penulis: Asy Syaikh DR. Ahmad bin Umar Salim Bazmul
Diterjemahkan oleh : Ust. Askary bin Jamal Al Bugisi

PENGANTAR

Ini adalah sebuah risalah yang ditulis oleh Asy Syaikh Abu Umar Ahmad bin Umar Bazemul dan diterjemahkan oleh Al Ustadz Abu Karimah Askary bin Jamal Al Bugisi yang menjelaskan kewajiban mendengar dan taat kepada penguasa selama bukan dalam hal kemaksiatan, serta menjelaskan kewajiban menghormati, memuliakan dan menasehatinya, dan penjelasan tentang diharamkannya melepaskan baiat ketaatan dan haramnya memberontak terhadap mereka.



MUQADDIMAH

بسم الله الرحمن الرحيم

إن الحمد لله نحمده و نستعينه و نستغفره و نعوذ بالله من شرور أنفسنا و من سيئات أعمالنا من يهده الله فلا مضل له و من يضلل فلا هادي له و أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له و أشهد أن محمداً عبده و رسوله
{ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ} (آل عمران:102) .
{ يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيراً وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيباً}. (النساء:1) .
{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيداً . يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزاً عَظِيماً} (الأحزاب:70-71) .

فإن أصدق الكلام كلام الله و خير الهدي هدي محمد صلى الله عليه وسلم و شر الأمور محدثاتها و كل محدثة بدعة و كل بدعة ضلالة و كل ضلالة في النار .
أما بعد :

Ini adalah risalah yang ringkas, yang aku sebutkan padanya nash-nash dari Sunnah Nabawiyyah yang mutawatir dalam menjelaskan kewajiban mendengar dan taat kepada penguasa selama bukan dalam hal kemaksiatan, serta menjelaskan kewajiban menghormati, memuliakan dan menasehatinya, dan penjelasan tentang diharamkannya melepaskan baiat ketaatan dan haramnya memberontak terhadap mereka.

Sejumlah hadits-hadits Nabi صلى الله عليه وسلم ini memberikan faedah peringatan dari sekte khawarij, yang pada hadits-hadits tersebut terdapat kecukupan bagi orang yang Allah pelihara dari terjerumus ke dalam sekte khawarij tersebut dan bagi orang yang tidak sependapat dengan mereka dan bersabar dalam menyikapi kedzaliman para penguasa dan pemimpin Negara, dan tidak melakukan perlawanan dengan pedang-nya terhadap mereka, serta memohon kepada Allah Ta’ala agar menghilangkan kedzaliman yang menimpa dirinya dan kaum muslimin dan mendoakan penguasa agar diberi kebaikan.

Jika penguasa memerintahkannya untuk taat dan memungkinkan baginya untuk mentaatinya maka hendaklah ia mentaatinya, dan apabila dia tidak mampu maka hendaklah dia meminta udzur kepada mereka. Dan jika mereka memerintahkan kepada kemaksiatan maka jangan ia mentaatinya, maka barangsiapa yang memiliki sifat ini maka dia berada diatas jalan yang lurus insya Allah( ).

Dan aku beri nama risalah ini “KEDUDUKAN SUNNAH DALAM MENYIKAPI PENGUASA NEGERI”, hanya kepada Allah aku memohon agar menjadikan amalanku senantiasa bersih dari riya’ dan sum’ah, dan menjadikannya sebagai simpanan amalku pada hari yang tidak bermanfa’at harta dan anak keturunan, kecuali yang menghadap kepada-Nya dengan membawa hati yang suci.

Ditulis oleh: Abu Umar Ahmad bin Umar Bazmul
Pengajar di Ma’had Harom, Makkah Syarifah.

KEUTAMAAN SEORANG PEMIMPIN YANG ADIL

Rasulullah صلى الله عليه وسلم menjelaskan bahwa seorang pemimpin yang adil adalah seorang yang mengikuti perintah Allah dengan meletakkan sesuatu pada tempatnya tanpa berlebihan dan tidak pula meremehkan, maka dialah yang termasuk diantara yang mendapatkan perlindungan Allah pada hari kiamat pada hari yang tiada naungan kecuali naungannya, dan bahwa dia termasuk diantara ahli syurga, sebagaimana yang dikeluarkan oleh Imam Bukhari dalam shohihnya dari hadits Abu Hurairoh Radhiyallahu ‘anhu dari Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda:


سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ إِمَامٌ عَادِلٌ وَشَابٌّ نَشَأَ فِي عِبَادَةِ اللَّهِ وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللَّهَ فِي خَلَاءٍ فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ فِي الْمَسْجِدِ وَرَجُلَانِ تَحَابَّا فِي اللَّهِ وَرَجُلٌ دَعَتْهُ امْرَأَةٌ ذَاتُ مَنْصِبٍ وَجَمَالٍ إِلَى نَفْسِهَا قَالَ إِنِّي أَخَافُ اللَّهَ وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ فَأَخْفَاهَا حَتَّى لَا تَعْلَمَ شِمَالُهُ مَا صَنَعَتْ يَمِينُهُ ".

”Ada tujuh golongan yang Allah beri naungan pada hari kiamat di bawah naungan-Nya dimana tidak ada naungan kecuali naungan-Nya: seorang pemimpin yang adil, seorang pemuda yang tumbuh dalam beribadah kepada Allah, seorang yang berdzikir kepada Allah dalam keadaan sendiri lalu berlinang air matanya, seorang laki-laki yang hatinya terpaut dengan masjid, dua orang yang saling mencintai karena Allah, seorang lelaki yang dirayu oleh seorang wanita berkedudukan dan berparas cantik lalu ia berkata: sesungguhnya aku takut kepada Allah, seorang yang bersedekah lalu dia menyembunyikannya sehingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang dikerjakan oleh tangan kanannya.”
Dan dikeluarkan pula oleh Imam Muslim dalam shohihnya dari ‘Iyyadh bin Himar al-mujasyi’i bahwa Rasululullah صلى الله عليه وسلم bersabda:


:" أَهْلُ الْجَنَّةِ ثَلَاثَةٌ ذُو سُلْطَانٍ مُقْسِطٌ مُتَصَدِّقٌ مُوَفَّقٌ وَرَجُلٌ رَحِيمٌ رَقِيقُ الْقَلْبِ لِكُلِّ ذِي قُرْبَى وَمُسْلِمٍ وَعَفِيفٌ مُتَعَفِّفٌ ذُو عِيَالٍ "

“Penduduk syurga ada tiga golongan: penguasa yang adil, bersedekah dan mendapat taufik, dan seorang yang pengasih, berhati lembut kepada setiap kerabat dan setiap muslim, seorang yang miskin dan memelihara kehormatannya (merasa cukup dengan apa yang ada),dan memiliki tanggungan keluarga.”


Pemimpin yang adil adalah yang bijaksana dalam kepemimpinannya, dan seorang penguasa yang adil tidak tertolak do’anya sebagaimana yang diriwayatkan oleh Tirmidzi dalam sunan-nya dari hadits Abu Hurairoh berkata: bersabda Rasulullah صلى الله عليه وسلم:

:" ثَلَاثَةٌ لَا تُرَدُّ دَعْوَتُهُمُ الصَّائِمُ حَتَّى يُفْطِرَ وَالْإِمَامُ الْعَادِلُ وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ يَرْفَعُهَا اللَّهُ فَوْقَ الْغَمَامِ وَيَفْتَحُ لَهَا أَبْوَابَ السَّمَاءِ وَيَقُولُ الرَّبُّ وَعِزَّتِي لَأَنْصُرَنَّكِ وَلَوْ بَعْدَ حِينٍ "

“Tiga golongan yang tidak ditolak do’anya: orang yang berpuasa hingga dia berbuka, seorang pemimpin yang adil, dan do’anya orang yang terdzalimi, Allah mengangkatnya di atas awan dan membukakan baginya pintu-pintu langit, dan Allah berfirman: “Demi kemuliaan-Ku, aku pasti akan menolongmu kapan saja.”(2)

MENCINTAI PENGUASA, MEMULIAKAN DAN MENGHORMATINYA

Sesungguhnya seorang pemimpin negara telah menguras kemampuannya, waktunya untuk memelihara kemaslahatan rakyatnya, dan memberikan berbagai jalan-jalan kemudahan bagi mereka, dan menolak adanya marabahaya dan kejelekan dari mereka dengan izin Allah Azza wajalla. Oleh karenanya, dialah yang memelihara kita, sebagaimana yang telah dikeluarkan Al Bukhari dalam shohihnya dari Ibnu Umar radhiallahu anhuma bahwa Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:

" كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ الْإِمَامُ رَاعٍ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ "

“Kalian semua adalah pemelihara, dan kalian semua akan ditanya tentang peliharaannya, seorang pemimpin akan ditanya tentang rakyatnya.”

Maka wajib bagi kita untuk mengetahui kedudukannya dan menghormatinya, bahkan mencintai apa yang telah dia tegakkan dari berbagai tugas yang berat dan tanggung jawab yang sempurna.Telah dikeluarkan Imam Muslim dalam shohihnya dari ‘Auf bin Malik Al-asyja’i berkata: bersabda Rasulullah صلى الله عليه وسلم :


:" خِيَارُ أَئِمَّتِكُمِ الَّذِينَ تُحِبُّونَهُمْ وَيُحِبُّونَكُمْ وَتُصَلُّونَ عَلَيْهِمْ وَيُصَلُّونَ عَلَيْكُمْ "

“ Sebaik-baik pemimpin kalian adalah yang kalian cintai dan mereka mencintai kalian, kalian mendo’akan mereka dan mereka mendo’akan kalian.”

Barangsiapa yang memuliakan dan menghormati penguasanya, maka Allah akan memuliakannya pada hari kiamat, dan barangsiapa yang tidak memuliakannya, maka Allah akan menghinakannya pada hari kiamat sebagaimana yang dikeluarkan Imam Ahmad dalam musnad- nya dari Abu Bakroh berkata: aku mendengar Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:

" مَنْ أَكْرَمَ سُلْطَانَ اللَّهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى فِي الدُّنْيَا أَكْرَمَهُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَمَنْ أَهَانَ سُلْطَانَ اللَّهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى فِي الدُّنْيَا أَهَانَهُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ".

“Barangsiapa yang memuliakan penguasanya Allah tabaroaka wata’ala di dunia, maka Allah akan memuliakannya pada hari kiamat, dan barangsiapa yang menghinakan penguasanya Allah tabaroka wata’ala di dunia maka Allah akan menghinakannya pada hari kiamat.”(3)

Dan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menjelaskan bahwa yang ingin menemui penguasa dalam rangka memuliakannya maka senantiasa dia mendapat jaminan dari Allah Ta’ala sebagaimana yang dikeluarkan Imam Ahmad dalam musnad-nya dari Mu’adz berkata:

" عَهِدَ إِلَيْنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي خَمْسٍ مَنْ فَعَلَ مِنْهُنَّ كَانَ ضَامِنًا عَلَى اللَّهِ مَنْ عَادَ مَرِيضًا أَوْ خَرَجَ مَعَ جَنَازَةٍ أَوْ خَرَجَ غَازِيًا فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَوْ دَخَلَ عَلَى إِمَامٍ يُرِيدُ بِذَلِكَ تَعْزِيرَهُ وَتَوْقِيرَهُ أَوْ قَعَدَ فِي بَيْتِهِ فَيَسْلَمُ النَّاسُ مِنْهُ وَيَسْلَمُ "

“Rasulullah صلى الله عليه وسلم telah menjanjikan kami lima perkara yang barangsiapa yang melakukan salah satu darinya maka senantiasa dia mendapat jaminan keamanan dari Allah: barangsiapa yang mengunjungi orang sakit, atau keluar bersama jenazah, atau keluar berperang di jalan Allah atau menemui seorang imam yang dia ingin memuliakan dan menghormatinya ataukah duduk di rumahnya agar manusia selamat darinya dan diapun selamat.”(4)

Dan adalah para ulama salaf mendatangi penguasa dan menghormatinya,sebagaimana yang diriwayatkan Ad-Darimi dalam musnad-nya dari Mughiroh rahimahullah bahwa dia berkata:

" كُنَّا نَهَابُ إِبْرَاهِيمَ هَيْبَةَ الْأَمِيرِ "

“Sesungguhnya kami segan kepada Ibrohim seperti segannya kami kepada penguasa.”

HORMATNYA ULAMA KEPADA PEMERINTAH BUKAN MENJILAT

Sesungguhnya penghormatan para ulama terhadap penguasa merupakan hal yang sunnah dan merupakan petunjuk salafus sholih –semoga Allah meridhai mereka semua-, berbeda halnya apa yang diseru oleh sebagian orang-orang yang jahil bahwa penghormatan ulama kepada penguasa dengan tujuan mendapatkan kedudukan atau menjilat dihadapan para penguasa.

Berkata para imam dakwah:

“diantara yang perlu menjadi perhatian adalah apa yang disangka kebanyakan orang-orang yang jahil dalam hal tuduhan mereka terhadap ahli ilmu dan agama bahwa mereka menjilat, merendahkan kedudukannya, dan meninggalkan kewajiban yang wajib ditegakkannya dari perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala dan menyembunyikan apa yang mereka ketahui dari kebenaran, dan berdiam diri untuk menjelaskannya. Sementara orang-orang jahil ini tidak tahu bahwa menggunjing ahli ilmu dan agama, dan merusak kehormatan kaum mukminin adalah racun pembunuh, penyakit terpendam, dan dosa yang jelas dan nyata. Allah Ta’ala berfirman:

وَالَّذِينَ يُؤْذُونَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ بِغَيْرِ مَا اكْتَسَبُوا فَقَدِ احْتَمَلُوا بُهْتَاناً وَإِثْماً مُبِيناً (الأحزاب:58)

“Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang mu'min dan mu'minat tanpa kesalahan yang mereka perbuat, maka sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata.”(QS. Al-Ahzab:58)

HUKUMAN BAGI ORANG YANG MENGHINAKAN PENGUASA

Barangsiapa yang merendahkan penguasa, maka sungguh dia telah melepaskan tali kekang Islam dari lehernya, sebagaimana yang dikeluarkan Imam Ahmad dalam musnadnya dari Abu Dzar radhiallahu anhu bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa-alihi wasallam berkhutbah dihadapan kami lalu bersabda:


" إِنَّهُ كَائِنٌ بَعْدِي سُلْطَانٌ فَلَا تُذِلُّوهُ فَمَنْ أَرَادَ أَنْ يُذِلَّهُ فَقَدْ خَلَعَ رِبْقَةَ الْإِسْلَامِ مِنْ عُنُقِهِ "

“Sesungguhnya akan muncul setelahku penguasa, maka janganlah engkau menghinakannya, barangsiapa yang ingin menghinakannya maka sungguh dia telah melepaskan tali kekang Islam dari lehernya.”(5)

Yang dimaksud ribqoh adalah tali yang diletakkan dileher hewan, dan yang dimaksud adalah perjanjian. Berkata Ibnul Atsir: ribqoh asalnya adalah ikatan tali yang diletakkan pada leher binatang ternak atau ditangannya sehingga menahannya, maka digunakan istilah ini kepada Islam, yaitu apa yang seorang muslim mengikat dirinya dengannya berupa ikatan tali Islam, berupa batasan-batasannya, hukum-hukumnya, perintah dan larangannya.”(6)

WAJIB MENDENGAR DAN TAAT KEPADA PENGUASA

Allah Ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ (النساء: من الآية59)

“Hai orang-orang yang beriman, ta`atilah Allah dan ta`atilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Qur'an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (QS.An-Nisaa:59)

Berkata syeikhul Islam Ibnu Taymiyyah rahimahullah:

" طَاعَةُ اللهِ وَ رَسُوْلِهِ وَاجِبَةٌ عَلَى كُلِّ أَحَدٍ وَ طَاعَةُ وُلَاةِ الأُمُوْرِ وَاجِبَةٌ لِأَمْرِ اللهِ بِطَاعَتِهِمْ "

“Taat kepada Allah dan Rasul-Nya adalah kewajiban bagi setiap orang,dan taat kepada penguasa adalah kewajiban berdasarkan perintah Allah untuk mentaati mereka.”(7)

Berkata Ibnu Katsir rahimahullah (tentang ayat 59 An Nisa’):
“Secara zahir –wallahu a’lam- bahwa ayat ini umum mencakup setiap ulil amri dari para penguasa dan ulama(8)

Dan berkata Imam Nawawi rahimahullah:
”Yang dimaksud dengan ulil amri adalah siapa yang Allah wajibkan untuk mentaatinya dan para pemimpin dan penguasa. Dan ini adalah pendapat mayoritas ulama salaf dan khalaf dari kalangan ahli tafsir, fuqaha dan selainnya.”(9)

Dan berkata As Syaikh Bin Baaz rahimahullah Ta’ala:
”Ayat ini adalah nash tentang wajibnya taat kepada ulil amri, yaitu penguasa dan para ulama, dan telah datang dalam sunnah yang shohih dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menjelaskan bahwa ketaatan ini sifatnya harus, dan merupakan kewajiban selama dalam perkara ma’ruf.”(10)

BUTUHNYA MANUSIA KEPADA HAKIM YANG MEREKA DENGAR DAN TAATI

Telah diketahui secara pasti dalam Islam bahwa tidak ada agama kecuali dengan jama’ah, dan tidak ada jama’ah kecuali dengan imamah, dan tidak ada imamah kecuali dengan mendengar dan taat, dan keluar dari ketaatan kepada waliyyul amri termasuk diantara sebab terbesar munculnya kerusakan di berbagai negara, rusaknya para hamba dan penyimpangan dari jalan hidayah dan petunjuk.”(11)

Berkata Al Imam Al Hasan Al Bashri Rahimahullah Ta’ala:

و الله لا يستقيم الدين إلا بولاة الأمر و إن جاروا و ظلموا و الله لما يصلح الله بهم أكثر مما يفسدون

“Demi Allah, tidaklah tegak agama kecuali dengan penguasa, walaupun mereka berbuat kedzaliman, demi Allah apa yang mereka perbaiki lebih banyak daripada kerusakan mereka.”(12)

Berkata Ibnu Rojab Al Hambali Rahimahullah Ta’ala :
”Mendengar dan taat kepada yang mengatur urusan kaum muslimin, padanya terdapat kebahagiaan dunia, dan dengannya akan teratur kemaslahatan para hamba dalam mata pencaharian mereka, dan dengan sikap tersebut akan membantu mereka untuk menegakkan agamanya dan taat kepada robb-nya.”(13)

Dan keluar dari ketaatan kepada penguasa dan memberontak kepadanya dengan perang atau yang lainnya adalah merupakan kemaksiatan dan penyimpangan dari jalan Allah dan Rasul-Nya, dan menyelisihi keyakinan ahlus sunnah wal jama’ah dan as-salafus sholeh.(14)

TAAT KEPADA PENGUASA BERARTI TAAT KEPADA RASUL صلى الله عليه وسلم

Telah dijelaskan oleh Nabi صلى الله عليه وسلم bahwa mentaati penguasa merupakan bentuk ketaatan kepadanya صلى الله عليه وسلم, sebagaimana yang dikeluarkan Imam Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu dari Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda:

مَنْ أَطَاعَنِي فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ وَمَنْ يَعْصِنِي فَقَدْ عَصَى اللَّهَ وَمَنْ يُطِعِ الْأَمِيرَ فَقَدْ أَطَاعَنِي وَمَنْ يَعْصِ الْأَمِيرَ فَقَدْ عَصَانِي

“Barangsiapa yang taat kepadaku maka sungguh dia telah taat kepada Allah dan barangsiapa yang durhaka kepadaku maka sungguh dia telah durhaka (bermaksiat) kepada Allah, dan barangsiapa yang mentaati pemimpin maka sungguh dia telah mentaatiku, dan barangsiapa yang durhaka kepada pemimpin maka sungguh dia telah durhaka kepadaku.”

WASIAT NABI صلى الله عليه وسلم AGAR MENDENGAR DAN TAAT KEPADA PEMIMPIN

Bahkan Nabi صلى الله عليه وسلم menjadikan kewajiban mendengar dan taat kepada pemimpin sebagai wasiat Beliau setelah wasiat taqwa kepada Allah azza wajalla, sebagaimana yang diriwayatkan Ad-Darimi dalam sunan-nya dari Irbadh bin Sariyah Radhiyallahu’anhu berkata: Rasulullah صلى الله عليه وسلم telah menasehati kami dengan nasehat yang sangat menyentuh, yang menyebabkan berlinang air mata kami, dan bergetar hati-hati kami, maka seseorang berkata: wahai Rasulullah, seakan-akan ini merupakan nasehat orang yang hendak berpisah, maka berikanlah kepada kami wasiat, maka Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda :

أُوصِيكُمْ بِتَقْوَى اللَّهِ وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ كَانَ عَبْدًا حَبَشِيًّا "

“Aku wasiatkan kepada kalian agar bertaqwa kepada Allah, mendengar dan taat (kepada pemimpin) walaupun dia seorang budak dari habsyi.”(15)

Dan dikeluarkan Imam Muslim dalam shohihnya dari Abu Dzar Radhiyallahu’anhu berkata:

:" أَوْصَانِي أَنْ أَسْمَعَ وَأُطِيعَ وَإِنْ كَانَ عَبْدًا مُجَدَّعَ الْأَطْرَافِ إِنَّ خَلِيلِي "

“Sesungguhnya kekasihku shallallahu alaihi wasallam telah mewasiatkan kepadaku agar aku mendengar dan taat walaupun dia seorang budak yang terpotong bagian-bagian tubuhnya.”

PERINTAH MENDENGAR DAN TAAT DALAM SETIAP KEADAAN

Nabi shallallahu alaihi wasallam memerintahkan untuk senantiasa mendengar dan taat kepada penguasa dalam setiap keadaan, sebagaimana yang dikeluarkan Imam Muslim dalam shohihnya dari Abu Hurairoh Radhiyallahu’anhu berkata: bersabda Rasulullah صلى الله عليه وسلم :

" عَلَيْكَ السَّمْعَ وَالطَّاعَةَ فِي عُسْرِكَ وَيُسْرِكَ وَمَنْشَطِكَ وَمَكْرَهِكَ وَأَثَرَةٍ عَلَيْكَ "

“Wajib atas kalian mendengar dan taat dalam keadaan sulitmu dan mudahmu, dalam keadaan rajinmu dan terpaksamu, dan mereka merampas hak-hakmu.”

Makna “mansyat” adalah disaat engkau rajin, dan makna “makroh” adalah disaat engkau benci,dan yang dimaksud adalah disaat engkau senang dan marah, sulit dan mudah.

TIDAK BOLEH MENDENGAR DAN TAAT DALAM KEMAKSIATAN

Nabi صلى الله عليه وسلم menjelaskan bahwa mendengar dan taat kepada penguasa adalah wajib selama tidak memerintahkan kepada kemaksiatan. Jika mereka memerintahkan untuk bermaksiat maka tidak boleh didengar dan ditaat dalam kemaksiatan tersebut secara khusus, adapun perintah yang lainnya maka tetap wajib didengar dan ditaati, sebagaimana yang dikeluarkan Imam Bukhari dalam shohihnya dari Abdullah radhiallahu anhu dari Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda:

" السَّمْعُ وَالطَّاعَةُ حَقٌّ عَلَى الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ فِيمَا أَحَبَّ وَكَرِهَ مَا لَمْ يُؤْمَرْ بِمَعْصِيَةٍ فَإِذَا أُمِرَ بِمَعْصِيَةٍ فَلَا سَمْعَ وَلَا طَاعَةَ "

“Mendengar dan taat adalah kewajiban atas setiap muslim terhadap apa yang dia senangi dan yang dia benci, selama tidak diperintah untuk berbuat kemaksiatan, maka jika diperintah untuk bermaksiat maka tidak boleh mendengar dan taat.”

Berkata para Ulama: maknanya adalah: wajib mentaati penguasa disaat sulit dan tidak disukai oleh jiwa, dan selainnya selama dalam perkara yang bukan kemaksiatan. Jika berupa kemaksiatan maka tidak boleh mendengar dan taat. Sedangkan makna: “tidak boleh mendengar dan taat” adalah dalam perkara yang diperintahkan berbuat maksiat saja, jika diperintah untuk mengerjakan yang haram, maka wajib untuk tidak mentaatinya dalam perkara tersebut, maka jangan dia menurutinya, sebab taat kepada Allah lebih wajib. Dan jangan difahami bahwa jika diperintah berbuat maksiat maka tidak boleh mendengar dan taat secara mutlak dalam setiap perintahnya, namun dia tetap mendengar dan taat secara mutlak, kecuali dalam kemaksiatan maka tidak boleh mendengar dan taat.(16)

Berkata Syekh Ibnu Utsaimin rahimahullah:

“Jika penguasa memerintahkan dengan suatu perintah, maka tidak terlepas dari tiga keadaan:
Pertama: bahwa itu termasuk yang Allah perintahkan, maka wajib bagi kita mematuhinya, karena adanya perintah Allah terhadapnya, dan perintah mereka pula. Maka jika mereka mengatakan: tegakkanlah sholat, maka wajib atas kita menegakkannya karena mematuhi perintah Allah dan mematuhi perintah mereka. Allah Ta’ala berfirman:

{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ }

“Wahai orang-orang yang beriman,taatilah Allah dan taatilah rasul-Nya dan ulil amri diantara kalian.”(QS.An-Nisaa: 59).

Keadaan Kedua: mereka memerintahkan dengan sesuatu yang Allah melarangnya, maka dalam keadaan ini kita mengatakan: kami mendengar dan taat kepada Allah dan kami menyelisihi kalian, sebab tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam bermaksiat kepada al-Kholiq, seperti kalau mereka mengatakan: janganlah kalian sholat jama’ah di masjid-masjid, maka kita menjawab: tidak boleh mendengar dan mentaatinya.

Keadaan Ketiga: mereka memerintahkan dengan sesuatu yang tidak terdapat perintah Allah dan Rasul-Nya, dan tidak terdapat pula larangan dari Allah dan Rasul-Nya: maka kita wajib mendengar dan taat. Kita tidak mentaati mereka karena mereka adalah si-ini dan si-itu, namun karena Allah yang memerintahkan kita untuk taat kepadanya, dan Rasulullah صلى الله عليه وسلم memerintahkan hal itu kepada kita. Dimana beliau bersabda:

"اسمع و أطع و إن ضرب ظهرك و أخذ مالك"

“Dengar dan taatlah,walaupun dia memukul punggungmu dan merampas hartamu.”(17)

Dan para shahabat Radhiyallahu’anhum bertanya kepada beliau shallallahu alaihi wasallam tentang para penguasa yang merampas harta mereka dan mengambil hak-hak rakyatnya? Maka beliau menjawab:

عليهم ما حملوا و عليكم ما حملتم

“Mereka menanggung atas perbuatan mereka (atas kedhalimannya), sedangkan kalian menanggung atas apa yang kalian lakukan.”
Dan beliau telah memikulkan kepada kita tanggung jawab untuk mendengar dan taat . (18)

KESALAHAN PENDAPAT YANG MENGATAKAN: TIDAK BOLEH MENDENGAR DAN TAAT KEPADA PEMERINTAH

Diantara manusia ada yang mengatakan: tidak boleh mendengar dan taat kepada pemerintah dengan alasan bahwa hadits-hadits yang disebutkan tentang mendengar dan taat hanyalah pada imam yang menyeluruh (khalifah) bukan yang khusus, dan ini sudah tentu perkataan yang batil yang menyelisishi ijma’ para ahli ilmu.

Berkata syeikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahhab:

”Para imam dari setiap madzhab sepakat bahwa barangsiapa yang meguasai sebuah negeri, maka dia hukumnya sama dengan hukum imam dalam setiap keadaan, kalau bukan karena hal ini maka urusan dunia tidak akan tegak, sebab manusia semenjak zaman yang berkepanjangan, dari sebelum zaman imam Ahmad hingga zaman kita sekarang ini, mereka tidak sepakat di atas satu imam, namun mereka tidak mengetahui seorangpun dari ulama yang mengatakan bahwa tidak sah hukum apa pun yang diterapkan kecuali bila ada imam yang menyeluruh.”(19)

Berkata Imam Asy-Syaukani:

”Merupakan hal yang dimaklumi bahwa pada setiap wilayah mempunyai penguasa tersendiri, demikian pula diwilayah lainnya, dan tidaklah mengapa bila terdapat beberapa penguasa, dan wajib mentaati setiap dari mereka setelah dibaiat oleh penduduk negeri tersebut yang akan menjalankan perintah dan larangannya, demikian pula penduduk dinegeri yang lain. Barangsiapa yang mengingkari ini maka dia telah mendustakan nash, dan tidak sepantasnya diajak berdialog tentang hujjah sebab dia tidak memahaminya.”(20)

KESALAHAN ORANG YANG MENDUDUKKAN DIRINYA SEPERTI PENGUASA

Diantara manusia ada yang mendudukkan dirinya seperti kedudukan penguasa yang mempunyai kekuatan dan kekuasaan dalam mengatur manusia, maka diapun mengajak sekelompok manusia untuk mendengar dan taat kepadanya, ataukah sekelompok manusia itu membaiatnya untuk mereka dengar dan taati aturannya, padahal dinegeri tersebut ada penguasa yang nampak ditengah mereka !

Tidaklah diragukan lagi bahwa ini merupakan kesalahan besar dan dosa yang berat, barangsiapa yang melakukan ini maka sungguh dia telah menentang Allah dan Rasul-Nya shallallahu alaihi wasallam, dan menyelisihi nash-nash syari’at, maka tidak wajib mentaatinya bahkan diharamkan, sebab dia tidak punya kekuasaan dan tidak punya kemampuan sama sekali, maka atas dasar apa ucapannya didengar dan ditaati sebagaimana didengar dan ditaatinya penguasa yang tegak dan nampak.

Berkata syeikhul Islam Ibnu Taymiyyah rahimahullah:

“Nabi shallallahu alaihi wasallam memerintahkan untuk mentaati para pemimpin yang ada wujudnya dan diketahui memiliki kekuasaan yang dengannya mereka mampu untuk mengatur manusia, bukan mentaati yang tidak ada wujudnya dan yang majhul, dan juga tidak memiliki kekuasaan dan kemampuan sama sekali.”(21)

KESALAHAN ORANG YANG MENYANGKA BAHWA ATURAN UMUM TIDAK WAJIB DIDENGAR DAN DITAATI

Diantara manusia ada yang mengatakan: seseorang punya hak untuk keluar dari aturan umum yang telah diatur oleh pemerintah, dan tidak wajib terikat dengannya, dan tidak wajib mentaatinya, seperti tanda lalu lintas, pengurusan surat-surat paspor, dan yang lainnya. Dengan alasan bahwa itu tidak dibangun diatas pondasi syari’at, dan mentaati penguasa hanyalah dalam perkara- perkara syari’at saja, adapun dalam perkara yang mubah dan mandub (disukai) maka tidak wajib !!!

Dan tidaklah diragukan bahwa kesalahan ini muncul dari minimnya ilmu yang dimilikinya. Berkata Imam Abdul Aziz bin Baaz rahimahullah Ta’ala:

“Ini adalah suatu kebatilan dan kemungkaran, bahkan wajib hukumnya mendengar dan taat dalam perkara-perkara tersebut yang tidak ada kemungkaran padanya, Dimana penguasa telah mengaturnya demi kemaslahatan kaum muslimin, wajib tunduk terhadapnya, mendengar dan taat dalam perkara tersebut, sebab ini termasuk perkara yang ma’ruf yang memberi manfa’at kepada kaum muslimin.”(22)

Berkata Al-Allamah Al-Mubarakfuri:

“seorang pemimpin jika memerintahkan kepada perkara yang mandub dan mubah maka wajib (ditaati).”(23)

KESALAHAN ORANG YANG MENYANGKA BAHWA BOLEH BERPEGANG KEPADA DUA BAIAT

Sebagian manusia ada yang menyangka bahwa boleh baginya berpegang kepada dua baiat : baiat untuk penguasa muslim, dan baiat untuk pemimpin kelompoknya. Tidaklah diragukan bahwa ini merupakan kesalahan yang besar.

Berkata syekh Ibnu Utsaimin rahimahullah:

“Tidak boleh bagi seseorang memegang dua baiat, baiat untuk penguasa yang menyeluruh disebuah negeri, dan baiat untuk pemimpin kelompok yang dia berloyal kepadanya. Sementara Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda terhadap para musafir yang berjumlah tiga orang: “Hendaklan mereka mengangkat pemimpin salah seorang dari mereka.”, bukan berarti bahwa mereka berbaiat kepadanya, namun ini bermakna bahwa bagi suatu kumpulan manusia haruslah ada seseorang yang yang menjadi pemberi keputusan diantara mereka agar mereka tidak berselisih. Hal ini menunjukkan bahwa perselisihan, sepantasnya bagi kita berusaha untuk menutup pintunya dari setiap jalan.”(24)

KESALAHAN ORANG YANG MENYANGKA BAHWA DIA TIDAK WAJIB MENDENGAR DAN TAAT KARENA DIA TIDAK PERNAH BERBAIAT KEPADA PENGUASA

Sebagian manusia ada yang mengatakan: saya tidak pernah membaiat penguasa tersebut maka saya tidak wajib mendengar dan taat !. Tidak diragukan lagi bahwa ini adalah ucapan ngawur dan bodoh.

Berkata syaikhul Islam Ibnu Taymiyyah rahimahullah:

“Apa yang diperintahkan oleh Allah dan Rasul-Nya shallallahu alaihi wasallam dari ketaatan kepada penguasa dan menasehati mereka adalah perkara yang wajib atas setiap manusia, walaupun dia tidak pernah mengikat perjanjian (baiat) kepadanya, dan walaupun dia tidak bersumpah dengan berbagai sumpah yang menekankan.”(25)

Dan berkata Syaikh Bin Baaz:
”Jika kaum muslimin telah bersepakat diatas satu pemimpin, maka wajib secara keseluruhan untuk taat kepadanya, walaupun dia tidak secara langsung membaiatnya. Para shahabat dan kaum muslimin mereka tidak membaiat Abu Bakar, namun yang membaiatnya adalah penduduk Madinah, maka baiat tersebut berkonsekwensi bagi seluruhnya.”(26)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar